Catatan Seputar Penulisan Naskah Lakon Goyang Penasaran

Baca catatan proses kreatif lainnya

Oleh Intan Paramaditha

Terbit dalam buku Goyang Penasaran: Naskah Drama dan Catatan Proses (Intan Paramaditha & Naomi Srikandi, ed., Penerbit KPG 2013)

Cuplikan:

 

Goyang-Penasaran-bukuPertama kali saya jatuh cinta pada drama bukanlah di gedung teater, melainkan di kamar tidur. Drama buat saya dulu merupakan semacam ‘bedroom business’ yang berawal dari hobi membaca Shakespeare di sekolah menengah dan kemudian berlanjut hingga saya kuliah S1 di jurusan Sastra Inggris Universitas Indonesia. Saya sempat mendengar cerita dari guru-guru saya, termasuk Prof. Melani Budianta, bahwa di tahun 70 dan 80-an mahasiswa harus menghafal dialog-dialog Shakespeare berikut konteksnya agar tidak dimarahi dosen-dosen tegas seperti Alm. Tuti Indra Malaon. Semasa saya menjadi mahasiswa UI di akhir tahun 1990-an, tuntutan seperti itu sudah tidak ada, tapi saya tetap rajin membaca drama di luar ruang kuliah. Liburan saya habiskan dengan membaca karya Eugene O’Neil, August Strindberg, atau Tennessee Williams – sedikit dari beberapa penulis naskah favorit saya — dan berkhayal bagaimana karya-karya ini diwujudkan. Sedikit demi sedikit saya pun mulai menelusuri karya-karya penulis Indonesia. Malam Jahanam karya Motinggo Boesye masih membekas dan terus hadir dalam proses penulisan naskah Goyang Penasaran.

Sayangnya, mungkin karena saya kurang ‘gaul,’ pengalaman saya menonton teater di Indonesia sangat terbatas. Barulah ketika pindah ke New York pada tahun 2007 saya berkesempatan mengakses beragam pertunjukan karena begitu banyaknya pilihan. Saya ingat terpana menonton teater tari Pina Bausch dan sangat menikmati devised performance kelompok teater seperti Gobsquad, tapi rupa-rupanya, berdasarkan sejarah, hubungan saya dengan pertunjukan berbasis naskah agak romantis. Timbul perasaan berdebar-debar saat saya bersiap menonton Al Pacino sebagai Shylock dalam The Merchant of Venice di Broadway atau John Turturro sebagai Hamm dalam Endgame di BAM. Saya seperti mengunjungi teater yang saya reka di kepala, bertahun-tahun lalu di kamar tidur (sebelum ada YouTube), dan dengan rela melihatnya hancur ketika teater ‘yang sesungguhnya’ dihidupkan.

Karena cinta lama saya pada drama itulah, ketika Naomi Srikandi mengatakan bahwa ia ingin menyutradarai pertunjukan berdasarkan cerpen “Goyang Penasaran,” saya langsung menawarkan diri untuk terlibat menulis adaptasinya dalam bentuk drama. Cerpen “Goyang Penasaran” terbit dalam buku Kumpulan Budak Setan (2010), kumpulan cerita yang ditulis oleh Eka Kurniawan, Ugoran Prasad, dan saya sebagai hasil pembacaan ulang kami atas karya-karya penulis horor Abdullah Harahap. Buku itu adalah proyek horor kedua saya setelah menulis Sihir Perempuan (2005), dan saya merasa cerita pendek sebagai medium artistik belum habis saya gali. Akan tetapi, saya tergerak untuk bereksperimen dengan medium lain. Waktu itu saya belum terlalu akrab dengan karya-karya penyutradaraan Naomi, namun saya optimis kami bisa bekerja sama dengan baik karena minat kami pada permasalahan gender di Indonesia (Kami berdua sama-sama terlibat dalam Forum Diskusi Gender dan Seksualitas Simposium Pertunjukan di Indonesia di Yogyakarta). Selain itu, Teater Garasi telah menarik perhatian saya sejak pertunjukan Je.Ja.l.an dan Tubuh Ketiga. Maka pada bulan Agustus 2011, dengan debaran yang sama seperti saat hendak melihat tokoh Shylock diwujudkan oleh Al Pacino, saya mulai menggarap naskah dan memasuki sebuah petualangan baru dalam perjalanan saya sebagai pengarang.

***

Pada bulan September 2011, Naomi, para aktor, dan saya terlibat dalam workshop Goyang Penasaran di Yogyakarta. Di awal proses kami hanya punya rancangan struktur dramatik dan beberapa adegan, yaitu pentas dangdut beserta obrolan penonton yang ditulis oleh Naomi dan adegan Salimah kembali ke kampung yang saya tulis. Namun dalam workshop kami sudah mendiskusikan karakter, lingkup sosial, dan isu-isu penting dalam cerita seperti perubahan sosial politik di Indonesia, gender, dan pertunjukan agama. Diskusi bersama aktor berlangsung di siang hari, sementara proses penulisan dilanjutkan di malam hari. Naomi mengembangkan adegan pentas dangdut, dakwah, dan Salimah remaja belajar mengaji, sedangkan saya mulai menggarap adegan-adegan lain, seperti obrolan para preman, tawar-menawar antara Salimah dan Solihin, interaksi Subhan dan Haji Ahmad di masjid, serta tarian Salimah untuk Solihin. Ketika workshop berakhir, naskah belum sepenuhnya selesai. Adegan munculnya tokoh Banci dan adegan Salimah mengintip Haji Ahmad mengaji baru saya tulis sebulan kemudian.

Karena saya berada di Amsterdam selama bulan Oktober hingga Desember 2011, interaksi saya dengan tim bergantung pada teknologi video dan Skype. Secara umum proses kerja kami berlangsung sebagai berikut: saya mengirimkan naskah untuk dicoba dalam latihan oleh Naomi dan para aktor di Yogyakarta, dan jika ada kebutuhan perubahan naskah, Naomi – dan juga para aktor – akan menyodorkan usul baru. Sebagai contoh, pada awalnya Babak IV Adegan 3 berada di tengah dan bukan di akhir drama. Namun setelah dicoba dalam latihan, Naomi dan beberapa teman lain sepakat bahwa adegan itu lebih cocok dipakai sebagai penutup. Akhirnya adegan Ustadz mengaji tidak ditampilkan dan digantikan oleh yang sekarang menjadi Babak IV Adegan 3. Jarak memang merupakan tantangan, tapi kami terus mengupayakan kemungkinan kolaborasi. Beberapa kali saya menonton latihan secara langsung lewat Skype dan Naomi juga mengirimkan sejumlah rekaman video. Berdasarkan adegan-adegan yang saya saksikan, saya memberikan sejumlah saran sekaligus mencoba memperbaiki naskah untuk dikirimkan kembali kepada Naomi. Revisi memakan waktu yang cukup lama. Bahkan setelah pentas pertama di Yogyakarta pun masih ada beberapa dialog yang diubah.

Struktur dramatik dan penokohan Shakespeare banyak mempengaruhi saya dalam proses penulisan naskah Goyang Penasaran. Drama Shakespeare memang sering membentuk cara saya berpikir, termasuk di tempat-tempat yang tidak penting (dalam kehidupan sehari-hari diam-diam saya sering membuat komentar usil macam “Si X adalah Hamlet dalam versi lebih naif dan lebih membabi buta” atau “Si Y mirip dengan Cordelia, versi kurang cerdas”). Salimah, sebagaimana sejumlah tokoh perempuan dalam cerpen saya, banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh perempuan yang saya sukai dalam Shakespeare, seperti Lady Macbeth, Sycorax, dan Hecate (Gertrude kadang-kadang saya masukkan ke dalam daftar). Saya juga selalu tertarik pada tokoh-tokoh minor –“the clowns” – yang menjadi kendaraan narasi sekaligus mengungkap hubungan sosial yang berlangsung dalam kosmologi drama. Tokoh-tokoh minor ini akhirnya menjadi inspirasi bagi munculnya kelompok preman yang hanya disebut sekilas di dalam cerpen.

 

Baca selengkapnya dalam buku Goyang Penasaran: Naskah Drama dan Catatan Proses (Jakarta: Penerbit KPG 2013).