Goyang Penasaran: Catatan dan Perjalanan

Baca catatan proses kreatif lainnya

Cuplikan esai Goyang Penasaran: Catatan dan Perjalanan

Oleh Intan Paramaditha

Terbit dalam buku Bertukar Tangkap dengan Lepas:
Sesilangan dan Lintaran 20 Tahun Teater Garasi dalam Esai
(Teater Garasi/ Garasi Performance Institute, Desember 2014)

 

Goyang Penasaran, proyek yang mengantarkan saya pada kerja kolaboratif bersama Teater Garasi, adalah sebuah catatan sekaligus perjalanan. Ia mencatat apa yang berlangsung di Indonesia dalam satu dekade terakhir terkait dengan persoalan seksualitas, politik, dan agama. Sebagai sebuah perjalanan, ia telah berpindah bentuk, menemukan sejumlah persimpangan, bertatap muka dengan kemungkinan dan tantangan baru. Orang-orang yang ikut serta dalam transformasinya menemukan kelokan baru dalam perjalanan mereka masing-masing, termasuk juga saya.

 

… Posisi subyek yang saya ambil dalam proses penciptaan Goyang Penasaran juga bertumpang tindih dan menghasilkan pengalaman beragam yang sulit diformulasikan dalam sebuah tesis. Goyang Penasaran telah mempengaruhi perjalanan saya tidak saja sebagai pengarang, dalam arti pengarang cerita asli yang juga turut menulis naskah pertunjukan, tetapi juga sebagai produser yang – bersama dengan Naomi Srikandi – mengupayakan keberlangsungan Goyang Penasaran sebagai sebuah proyek jangka panjang. Di dalamnya turut berkelindan posisi saya sebagai warga negara yang menyaksikan dan mengalami hal-hal yang dibicarakan, atau gagal dibicarakan, oleh Goyang Penasaran. Pada akhirnya, Goyang Penasaran memang mencerminkan berbagai lapisan tak terpisahkan itu; ia berada di dalam titik temu sekaligus tegangan antara eksplorasi bentuk estetik dan kebutuhan untuk mempercakapkan hubungan antara seksualitas, politik, dan agama di dalam dan di luar teks yang dihadirkan.

 

Awal: Pertanyaan tentang Mata

 

Goyang Penasaran you just can't put a woman like me out of sightSebelum bicara tentang adaptasi Goyang Penasaran dari cerita pendek ke dalam bentuk drama, saya akan berjalan lebih jauh ke belakang untuk membicarakan konteks yang melahirkan cerita ini. “Rumah” pertama Goyang Penasaran adalah proyek kumpulan cerita pendek Kumpulan Budak Setan (Gramedia Pustaka Utama, 2010) yang saya gagas bersama Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad sebagai hasil pembacaan ulang atas karya-karya horor Abdullah Harahap. Kami mengajukan pertanyaan atas bagaimana memaknai apa yang disebut ‘horor’ dalam konteks Indonesia. Salah satu jawaban atas pertanyaan itu, saya kira, berhubungan dengan mata. Dan inilah yang saya tuangkan dalam cerpen “Goyang Penasaran.”

Apa-apa yang kasat mata punya harga. Setidaknya demikianlah yang saya pelajari di Indonesia selama satu dekade terakhir. Bila di era Orde Baru banyak hal terasa seperti hantu (bahkan bila kita mencoba melirik atau mengintip, kenyataan kerap hadir sebagai fragmen atau sepenuhnya absen dari pandangan), di awal reformasi kita merayakan kebebasan menarik segala sesuatu yang sebelumnya tak kasat mata ke dalam terang. Sejumlah karya yang lahir di awal tahun 2000-an adalah catatan atas perayaan ini. Di dalamnya kita tak hanya ingin melihat, tetapi juga dilihat. Namun tak lama setelahnya, ketika kita sibuk bereksperimen dengan ruang-ruang baru, kita menemukan kenyataan lain.

Masyarakat kita tengah dilanda krisis penglihatan dan keterlihatan. Negara, yang – seperti halnya kita – sibuk bereksperimen, mencoba mengatur apa yang boleh maupun tak boleh dilihat lewat sejumlah kebijakan. Kita belum selesai mempertanyakan (atau menolak) eksperimen-eksperimen aparatus negara yang sering kali mengejutkan ketika sekelompok masyarakat mengancam ruang publik dengan kekerasan spektakuler dan menjadikan kita penonton, kalau bukan korban. Kita merasa marah karena terus dipaksa melakukan tawar-menawar dengan kekerasan, bahkan berdamai dengannya. Ditulis sebagai cerita pendek di tahun 2008, sepuluh tahun setelah jatuhnya Suharto, “Goyang Penasaran” adalah sebuah catatan atas kemarahan. Dan saya tahu, khususnya dalam beberapa tahun terakhir, bahwa ia bukan satu-satunya.

“Goyang Penasaran” mengajukan pertanyaan tentang transaksi melihat/dilihat yang berlangsung dalam hubungan pelik antara wacana seksualitas dengan politik, agama, dan kekerasan. Isu gender dan seksualitas di Indonesia hingga kini masih dianggap sekunder oleh banyak kalangan. Dibanding isu-isu lain yang dianggap lebih genting, gender dan seksualitas kerap diberi atribut “hanya”: “hanya Inul” dalam kasus sensor atas tubuh perempuan di tahun 2003, “hanya waria” dalam kasus penyerangan FPI atas seminar transgender di Depok tahun 2009, atau “hanya aktivis perempuan” dalam kasus protes terhadap pernyataan pejabat publik tentang perempuan sebagai pemicu perkosaan di tahun 2011. Namun deretan panjang isu di ruang publik yang mempertentangkan imajinasi tentang bangsa sepanjang satu dekade sulit dilepaskan dari ranah seksualitas. Seksualitas adalah situs yang mengungkap kenyataan-kenyataan kontemporer: tegangan antar masyarakat sipil, ruang publik yang tak aman, dan absennya negara.

 

Baca selanjutnya dalam buku Bertukar Tangkap dengan Lepas: Sesilangan dan Lintaran 20 Tahun Teater Garasi dalam Esai (ed. Nirwan Ahmad Arsuka, 2014).

Bertukar Tangkap dengan Lepas - Teater Garasi

Para penulis yang terhimpun dalam buku ini—berdasar urutan tulisan—adalah: Barbara Hatley (Teater dan Bangsa, Dulu dan Sekarang), Gunawan Maryanto (Repertoar Hujan; Sebuah Ingatan), Alia Swastika (Teater Garasi Dua Dasawarsa: Pandangan Politik Kaum Muda), Wicaksono Adi (Fragmen, Parade Bentuk, Referensi), Yudi Ahmad Tajudin (Kisah-Kisah Perayaan Bersama dalam Tubuh Ketiga), Afrizal Malna (Teater Garasi Setelah Biografi Seorang Penonton), Farah Wardani (Tubuh yang Keras Kepala. Antara Arsip & Repertoar: Menonton Kembali, Membaca Kembali Garasi), Nirwan Dewanto (Dua Belas Fragmen), Jennifer Lindsay (Ruang-Ruang Ketiga), Landung Simatupang (Teater Garasi, Sekelumit Catatan dari Keterlibatan Saya), Yoshi Fajar Kresno Murti (Menenun Sejarah Ruang. Membaca Teater Garasi Melalui Je.ja.l.an, Tubuh Ketiga dan Goyang Penasaran), Marco Kusumawijaya (Mempertunjukkan Kota), Intan Paramaditha (Goyang Penasaran: Catatan dan Perjalanan) dan Goenawan Mohamad (Catatan Kecil Tentang Teater). Dan buku ini secara khusus disunting oleh Nirwan Ahmad Arsuka.