Goyang Penasaran (cerpen)

Cerita pendek “Goyang Penasaran” terbit dalam buku Kumpulan Budak Setan (2010). Di tahun 2011, cerita ini diadaptasi menjadi naskah drama oleh Intan Paramaditha dan Naomi Srikandi serta dipentaskan oleh Teater Garasi.

Klik di sini untuk mengetahui lebih jauh tentang lakon Goyang Penasaran.


Cuplikan dari cerpen “Goyang Penasaran”:

Basah, basah, basah seluruh tubuh

Ah, ah, ah, menyentuh kalbu

Salimah meliuk-liukkan tubuhnya yang berkeringat disoroti warna-warni lampu panggung. Ditingkahi suara gendang, ia menghentak dengan celana ketat dan baju hitam penuh manik, tak cukup rendah hati untuk menyembunyikan payudaranya yang penuh dan pinggulnya yang sintal. Matanya, serupa mata kucing diberati bulu mata palsu, menatap lurus ke arah penonton; dalam mabuk mereka bersumpah rela bertekuk lutut di bawah lekuk pinggulnya, mencium sepatu bot hitamnya yang lancip mengilat. Bibirnya, disapu lipstik Viva merah, terbuka dan menyala,

“Asyiknya digoyaaaaaang!”

Sungguh, goyangannya maut dan bikin penasaran.

Selain Salimah, di kampung itu ada beberapa penyanyi dangdut idola, seperti Tety Maryaty dan Cici Ciara. Soal cengkok, sebenarnya mereka sama piawai. Ketiganya punya pengalaman serupa: pernah ikut seleksi Musabaqah Tilawatil Quran dan sempat bercita-cita menjadi penyanyi pop sebelum akhirnya bergabung dengan Madu Merah Group. Tety Maryaty, tak pernah lepas dari kemeja berumbai dan celana motif macan, selalu meniru gaya sportif Vetty Vera meski ia terlalu montok untuk itu. Sementara itu, berkiblat pada wajah sendu dan mata menerawang Iis Dahlia dan Evie Tamala, Cici Ciara menyulap lagu manapun jadi merana, “Mana mungkin suamiku pulang ke rumahmu…”

Tak seperti rekan-rekannya, Salimah tak pernah kelewat lincah maupun patah hati. Suaranya bertenaga namun renyah dan binal, seperti Elvy Sukaesih. Gerakannya luwes, menggoda, kadang menggebu, tapi ia seperti selalu menyimpan sesuatu. Ada daya teramat hebat tertahan di balik balutan baju yang seolah tak memberi cukup ruang bagi tubuhnya untuk bernafas. Banyak yang bilang kerling matanya mirip Itje Trisnawati. Namun tak seperti Itje yang manja kekanakkan, Salimah tak pernah terlihat sedang bermain-main. Ia tak merasa risih akan tatapan lelaki, bahkan menikmati dan melumatnya. Matanya menyengat, seperti terus mencari-cari sesuatu; tak puas-puas. Penonton setianya mengira-ngira seperti apa jika ia mengumbar segenap gairahnya.

Para perempuan yang tumbuh dewasa bersama Salimah tahu ia lebih tua dari penampilannya. Mereka merunut sejarah hidupnya: kawin di umur tujuh belas, melahirkan anak lelaki setahun kemudian, bercerai di umur dua puluh tiga, menjanda sampai sekarang, di usia tiga puluh.  Untuk ukuran penyanyi dangdut kampung itu, ia tak terlalu muda.

Pasti dia pasang susuk, begitulah bisik-bisik tetangga. Ada sesuatu yang mengerikan, menghisap kuat-kuat di balik pesonanya. Sebagian orang yakin ia telah mengorbankan sesuatu, secara gaib, demi kecantikan. Barangkali nyawa. Tapi penggemar Salimah tak peduli. Janda bahenol atau Nini Pelet, perempuan itu punya tubuh bak gitar yang aduhai seksinya.

Kau masih gadis atau sudah janda

“Penonton, penasaran nggak?” Salimah berteriak di corong mikrofon. “Goyang dulu, dong!”

***

Baca cuplikan naskah drama Goyang Penasaran