Goyang Penasaran

About Goyang Penasaran (Obsessive Twist)
in English

Goyang Penasaran

 

GP_panggungsalimah

 

Goyang Penasaran adalah proyek kolaborasi kolektif seniman Teater Garasi berdasarkan naskah drama yang ditulis oleh Intan Paramaditha dan Naomi Srikandi serta disutradarai oleh Naomi Srikandi. Drama ini merupakan adaptasi dari cerita pendek karya Intan Paramaditha dengan judul serupa yang terbit dalam buku Kumpulan Budak Setan (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010), sebuah kumpulan cerita hasil pembacaan ulang atas karya-karya horor Abdullah Harahap oleh Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad. Goyang Penasaran pertama kali dipentaskan di studio Teater Garasi, 14-16 Desember 2011, dengan dukungan program Empowering Women Artists (EWA) Yayasan Kelola, yang didanai oleh HIVOS, Ford Foundation, dan Biyan. Produksi kedua Goyang Penasaran, dipentaskan di Teater Salihara, 19-20 April 2012, terwujud atas dukungan Komunitas Salihara serta masyarakat luas melalui cara crowdfunding.

Dengan adanya dukungan publik yang turut menentukan arah pertumbuhan karya ini sejak 2011, Goyang Penasaran diproyeksikan sebagai gagasan yang terus bergulir dan dipertukarkan melintasi berbagai medium. Tim Goyang Penasaran turut menggagas diskusi terbatas dalam bentuk focus-group discussion (FGD) bertajuk “Gender dan Agama dalam Seni dan Media” di Newseum Kafe, 21 April, 2012, sehari setelah pertunjukan terakhir di Salihara. FGD ini merupakan bagian dari serial  diskusi tentang gender dan seksualitas yang diinisiasi oleh jaringan SPIN (Simposium Pertunjukan di Indonesia), forum yang pertama kali mempertemukan para seniman Goyang Penasaran dan mendorong mereka untuk berkolaborasi lebih jauh.

Buku Goyang Penasaran: Naskah Drama dan Catatan Proses, yang memuat naskah berikut catatan proses seniman terkait, terbit pada bulan Agustus 2013. Selain itu ada pula buku naskah Goyang Penasaran dalam edisi terbatas, yang hanya tersedia selama pertunjukan di Salihara.

Goyang-Penasaran-buku


 

Email-blast-2

 

 Sinopsis lakon Goyang Penasaran

Salimah, penyanyi dangdut yang bikin penasaran, hidup di kampung tempat goyang dangdut diterima, dihidupkan, sekaligus dihujat banyak orang. Tak peduli ia gadis atau janda, setiap lelaki bersumpah rela bertekuk lutut di bawah lekuk pinggulnya. Solihin, pemuda perlente yang kemudian menjadi lurah, tak menyerah sekalipun lamarannya ditolak. Sebelum mendapatkan perempuan yang jadi rebutan, sampai matipun akan ia perjuangkan. Tapi Salimah hanya menginginkan mata Haji Ahmad, guru mengajinya dulu. Mata yang terbuka lebar, seperti saat memandangi Salimah membaca surat An-Nur, seperti ketika menamai perempuan itu sumber dosa. Mata yang marah dan memaksanya turun dari panggung. Mata yang ingin ia dekap ke dadanya, sampai mati. Sampai mati.

Goyangnya maut. Dan hingga kini, ia masih penasaran.

 

 

 

 


 

Konteks Penciptaan

Goyang Penasaran merupakan komentar atas euforia dan krisis seputar penglihatan dan keterlihatan setelah runtuhnya rezim Suharto. Ia mengajukan pertanyaan tentang transaksi melihat/dilihat dalam hubungan pelik antara wacana seksualitas, politik, agama, dan kekerasan. Adaptasi Goyang Penasaran dari teks ke panggung adalah upaya memperluas dialog atas kenyataan-kenyataan hari ini dengan siasat-siasat pertunjukan yang barangkali akan mengejutkan penglihatan penonton. Berpijak pada — sekaligus menawar – realisme sebagai moda artikulasi, pertunjukan ini menampilkan aktor yang seluruhnya laki-laki dengan referensi estetika film horor Indonesia klasik dan musik dangdut yang berjaya di era 1970-1980-an.


 

Goyang Penasaran, crowdfunding, dan partisipasi publik

Pendanaan produksi kedua Goyang Penasaran didukung oleh Komunitas Salihara serta melibatkan partisipasi publik melalui cara “saweran”/crowdfunding. Goyang Penasaran adalah proyek teater pertama di Indonesia yang mengajak publik terlibat mendukung karya dengan cara ini. Publik yang ikut serta membantu terwujudnya Goyang Penasaran berasal dari beragam disiplin seni (seni pertunjukan, sastra, film, teater, seni rupa) maupun profesi (kurator, aktivis, akademisi, wirausahawan, mahasiswa) di dalam maupun luar negeri.

Tim Goyang Penasaran percaya bahwa crowdfunding menggarisbawahi kenyataan bahwa publik mampu dan berhak mendukung karya seni; sebaliknya, dukungan luas mengingatkan kita bahwa suatu karya juga memiliki tanggung jawab sosial. Bagi tim Goyang Penasaran, crowdfunding bukan hanya sebuah platform pendanaan alternatif, tetapi suatu upaya mempromosikan gagasan tentang warga negara yang aktif, saling dukung, dan memiliki kepedulian sosial. Dukungan luas menunjukkan kepedulian publik atas isu-isu seputar gender, agama, dan kekerasan yang diangkat oleh karya ini. Goyang Penasaran dan isu-isu yang dilontarkannya, dengan demikian, adalah milik publik.

Laman crowdfunding Goyang Penasaran dapat dilihat di sini:

Goyang Penasaran you just can't put a woman like me out of sight


 

Pendukung Goyang Penasaran

 

Tim lengkap produksi pertama Goyang Penasaran (Studio Teater Garasi, Yogyakarta, 14-16 Desember 2011) dapat dilihat di sini

Informasi tentang pertunjukan Goyang Penasaran kedua di Teater Salihara, Jakarta, 19-20 April 2012, dapat dilihat di sini.


 

Arsip: reviews & media coverage

(atau buka tautan berikut)

 


 

Informasi lebih lanjut:

Goyang Penasaran Media Center
Contact person: Lusia Neti Cahyani (081392009503)
Email: goyangpenasaran@teatergarasi.org
Website: www.goyangpenasaran.teatergarasi.org
Facebook: http://www.facebook.com/goyangpenasaran
Twitter @goyangpenasaran