Hasrat dan Kreasi bersama Intan Paramaditha (Whiteboard Journal)

Whiteboard Journal, 18 Oktober 2017.

Febrina Anindita (F) berbincang dengan Intan Paramaditha (I).

by Febrina Anindita

 

F: Bicara seksualitas, memang jelas dengan adanya batasan dari publik maupun pemerintah Indonesia terhadap hal berbau seksual, sebenarnya mengindikasikan bahwa kita terobsesi dengan seksualitas. Menurut Anda, sebesar apa peran seks sebagai perangkat ideologi dalam politik sosial?

I: Jadi seksualitas sekarang menjadi sangat penting sebagai artikulasi politik, sebagai alat konsolidasi kuasa, dan yang lebih besar lagi, alat untuk membayangkan Indonesia setelah 1998. Ada semacam pertentangan tentang bagaimana Indonesia ini dibayangkan. Buat orang-orang seperti saya atau seperti Ayu Utami, kemudian sutradara-sutradara perempuan seperti Nan Achnas atau Nia Dinata, 1998 langsung terhubung dengan interrogation of gender and sexuality. Semua konstruksi Orde Baru kami pertanyakan, seperti misalnya “Ibu.” “Ibu” itu, kan, sangat penting dalam ideologi Orde Baru. “Ibu” adalah kebalikan dari GERWANI. “Ibu” adalah yang di rumah, yang mengayomi keluarga. GERWANI atau political women, adalah perempuan-perempuan yang berpolitik, karena itu mereka didemonisasi.

Ketika 1998 itu, kami membayangkan Indonesia yang lebih kritis, Indonesia yang lebih merayakan iklim yang lebih terbuka tentang banyak hal, termasuk di dalamnya identitas gender, seksualitas dan misalnya ras atau etnis, atau afiliasi politik. We think about more freedom to talk about, lets say, Chineseness atau isu 1965. Kita membayangkan semuanya adalah tentang kebebasan berekspresi, tapi buat kelompok yang lain tidak seperti itu. Nah, seksualitas itu penting untuk menjadi semacam rambu-rambu, “Ini Indonesia yang kita mau nih, yang begini.” Seperti moral, “Oh, Indonesia yang kita mau itu bukan yang kayak Inul, Indonesia yang kita mau adalah perempuan-perempuan yang bermoral.” Kelompok ini menentukan bayangan mereka tentang kebangsaan itu juga dari seksualitas. “Indonesia yang kita mau itu bukan yang banyak gay dan lesbian. Gay itu Barat, itu bukan Indonesia.”

Jadi semacam krisis diskriminasi terhadap kelompok LGBT. Itu juga menurut saya kegelisahan atas gagasan tentang Indonesia, karena buat kelompok LGBT, karena kita terpengaruh dengan jargon reformasi, demokrasi dan kebebasan berekspresi, kita menganggap Indonesia itu beragam. We celebrate diversity, sexual diversity, gay and lesbian, LGBT communities, we are all Indonesia. Tapi tunggu dulu, buat kelompok yang lain, “No, that’s not Indonesia.”

 

F: Anda akan merilis novel baru Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu di Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2017. Hadir dengan format petualangan, perpektif perempuan seperti apa yang ingin Anda berikan lewat karya terbaru ini?

I: “Gentayangan” sangat berbeda sebetulnya dari “Sihir Perempuan,” dia bukan adik dari “Sihir Perempuan,” dia berangkat dari pemikiran yang berbeda. Ini adalah refleksi tentang bagaimana kita menjadi manusia yang berjalan atau terus diputar di era saat ini ketika batas-batas negara semakin luntur, bisa dibilang subjek global. Jadi sekarang kan banyak sekali, kalau zaman saya tahun 90-an, mau ke Singapura mesti jadi orang kaya dulu, sekarang tinggal naik Air Asia mudah. Lalu dulu pemerintah Indonesia tidak mengirim orang ke luar negeri, Anda tidak bisa ke luar negeri kecuali mendapat Ford Foundation, atau Fulbright, atau apa. Tapi sekarang APDB sudah memberangkatkan berapa manusia, kan?

Kita belum bicara tentang pergerakan yang lain, misalnya diaspora Indonesia di luar negeri yang banyak ilegal, itu banyak sekali dan kita tidak membicarakan mereka, para imigran ilegal. Lalu ada juga refugee. Jadi manusia semakin bergerak, semakin mengalir, pergerakan manusia melintasi batas negara itu semakin dimungkinkan saat ini. Lalu, apa artinya menjadi subjek bergerak? Jadi ini adalah tentang pergerakan, tentang perjalanan, tentang subjek yang berputar di era yang global. Jadi pemikirannya tentang itu.

Kemudian pertanyaan berikutnya adalah, “Apa artinya menjadi perempuan yang berjalan?” Karena dari sejarahnya, perempuan yang berjalan itu punya pengalaman yang berbeda dengan laki-laki. Katakanlah di Eropa abad 19, perempuan yang ada di jalan itu dianggap bukan perempuan baik-baik. Sementara Charles Baudelaire dalam puisi-puisinya selalu menyebut flaneur, si pejalan yang melihat Paris. Dia mengobservasi kota dengan kritis, dia mengeksplorasi kota, tapi flaneur ini laki laki, sementara kalau kamu ingin melihat-lihat Paris, dan pada saat itu ada semacam boulevard tapi ada tempat yang kumuh juga. Kalau kamu di ruang publik, kan kamu harus bersama muhrim, harus ada teman. Kalau tidak, barangkali kamu dianggap pelacur. Jadi ruang gerak perempuan ketika mereka bergerak itu tidak sama dengan laki-laki. Jadi itu lapisan lain dari cerita tentang travel ini.

So what does it mean for women to travel? Dan tagline dari buku ini adalah “Cewek baik masuk surga, cewek bandel gentayangan,” dan saya selalu ingin mereklaim kata “bandel.” Buat saya “bandel” itu bukan perempuan yang menunjukkan gestur, katakanlah, dia bertato, merokok, atau melakukan hal-hal yang secara konvensional bandel, tapi perempuan yang benar-benar melewati batas. Buat saya mereka adalah perempuan yang bandel, dan saya merasa, well, if heaven is already claim that good girls go to heaven, dan surga itu sudah jadi klaim para konservatif, ya sudah kita pilih jalur lain saja, yuk. Kita tidak usah masuk surga, kita gentayangan saja. (tertawa).

 

Selanjutnya