Intan Paramaditha, Dari Tulisan Hingga Film (Wawancara majalah Area, 2010)

April, 20th 2010 |  by  Iwan Setiawan

Areamagz

area

 “Intan Paramaditha, Dari Tulisan Hingga Film”

Ketertarikannya dalam dunia mengolah cerita membuat sejumlah karya tulisnya dalam bentuk cerpen banyak diterbitkan sejumlah media massa. Beberapa di antaranya malah sudah dibukukan dalam buku kumpulan cerpen Sihir Perempuan. Tidak berhenti sampai di situ, Intan juga menekuni film dengan mengambil program Ph.D. Cinema Studies di New York University. Berikut obrolan saya dengannya.

Karya fiksi Anda memiliki ciri khas, baik dari segi penulisan maupun isu yang ditawarkan dalam cerita. Bisa ceritakan bagaimana proses kreatif Anda?

Biasanya, proses itu dimulai dari visual image yang menurut saya sangat kuat. Misalnya, visualisasi kisah Nabi Yusuf yang sering saya reka saat mendengar cerita nabi-nabi dalam tradisi Islam semasa kecil. Khususnya, bagian ketika para perempuan tak sengaja mengiris tangan mereka sendiri karena berhasrat terhadap Yusuf. Ini akhirnya menjadi inspirasi cerpen “Apel dan Pisau” yang terbit dalam Kumpulan Budak Setan. Contoh lainnya dari bible: imaji kegilaan Salome yang meminta kepala St. John the Baptist setelah menari untuk Raja Herod, yang kemudian saya olah untuk cerpen “Goyang Penasaran” (juga terbit di buku yang sama).

Dalam beberapa karya, Anda sepertinya memiliki perhatian khusus pada isu gender?

Banyak hal yang menjadi perhatian saya. Salah satunya adalah isu gender dan seksualitas serta kaitan antara keduanya. Sebagian orang masih beranggapan bahwa gender dan seksualitas adalah “isu perempuan” dan terlepas dari ranah politik. Padahal, bicara gender berarti juga bicara kaum gay, lesbian, dan transgender. Saya tertarik karena memang banyak peristiwa yang patut menjadi perhatian. Contoh gampangnya, Polygamy Award beberapa tahun lalu yang mempertunjukkan model maskulinitas tertentu untuk menyodorkan konstruksi muslim kelas menengah masa kini. Atau, demo yang menggunakan pakaian dalam perempuan untuk mengritik sikap politik lawan. Buat saya, gender dan seksualitas adalah isu yang belum selesai. Di Indonesia, keduanya begitu kompleks dan ironisnya, dianggap remeh, bahkan banal.

Walau sepertinya berawal dari hal-hal serius, tapi Anda berhasil membuat tulisan yang menarik dan enak dibaca. Apa latihan yang perlu dilewati untuk menjadi penulis yang baik?

Terlepas dari beragam standar yang menentukan apa itu “penulis yang baik”, saya menganggap bahwa proses kreatif apa pun menuntut seseorang untuk jadi pembaca akut. “Membaca” di sini bukan sekadar membaca sebanyak-banyaknya dan, katakanlah dalam karya sastra, menyebutkan nama-nama, seperti Joyce, Proust, Nietzsche, dan lain sebagainya untuk mengatakan bahwa sang tokoh atau pengarang adalah seorang yang cerdas. Membaca adalah proses mengkontradiksi, memperumit, dan merusak apa yang kita percaya.

Selain sebagai penulis fiksi, Anda juga punya perhatian lebih dalam dunia film. Apa komentar Anda terhadap dunia film nasional saat ini?

Secara umum, di Indonesia, kita harus punya energi besar untuk membangun infrastruktur. Di Amerika, produksi film berjalan seiring penonton yang terdidik. Penonton ini dihasilkan oleh banyak institusi, seperti kritik film, festival, maupun akademi. Film bisa diapresiasi dengan baik dan didiskusikan di ruang publik. Di Indonesia, semua ini dilakukan secara sporadis oleh komunitas film atau organisasi dengan funding terbatas. Sementara itu, Pemerintah yang seharusnya mengembangkan pendidikan bagi pembuat maupun penonton film melalui universitas lebih suka mengurusi hal-hal, seperti sensor film yang menampilkan SARA. Asumsi pemerintah: penonton nggak cukup terdidik, maka sensor masih perlu. Padahal, bagaimana mau terdidik kalau akademi tidak dibenahi? Jadi semacam lingkaran setan. Pembuat film pun mau tidak mau dipaksa jadi aktivis yang berjuang membangun infrastruktur. Akhirnya, energi kita habis jadi ‘budak (lingkaran) setan’ ini, not in a radical sense.

Terlepas betapa berantakannya infrastruktur film nasional, Anda masih menonton film nasional, ‘kan? Apa judul film nasional yang terakhir Anda saksikan?

Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982). Saya pernah menonton film ini saat masih kecil, jadi tidak begitu memperhatikan. Sekarang saya baru benar-benar menontonnya saat diputar sebagai bagian program Hari Film Nasional yang diadakan Kineforum. Film ini disutradarai Chaerul Umam dan ditulis Asrul Sani. Terlepas bahwa film ini moralis dan beberapa bagian terlalu dramatis, secara umum film ini bagus sekali. Ada self critique terhadap Islam, yang menurut saya sulit didapatkan di era gegar (film) Islam masa sekarang ini. Asrul sebagai penulis sering bikin adegan awkward yang keren. Misalnya hubungan homoerotik majikan laki-laki dan pesuruhnya. Adegan-adegan awkward ini juga muncul di film Asrul lainnya, Apa yang Kau Cari Palupi. Nonton film Indonesia yang bagus-bagus dari 1970–1980an selalu bikin saya berpikir: let’s do a remake of that film!