Jalur Feminis pada Pengaruh Sastra

oleh Intan Paramaditha

10 Mei 2017

 

Tulisan ini, diterjemahkan dari Bahasa Inggris oleh Intan Paramaditha dan Norman Erikson Pasaribu, pertama kali muncul dengan judul “A Feminist Trajectory of Literary Influences” di Inside Indonesia, 24 April, 2016.

 

Saya mulai banyak berpikir soal pengaruh sastra setelah menjawab pertanyaan seputar buku dalam rubrik ‘Bookworm’ The Jakarta Post pada akhir 2014. Secara berkala, koran ini menampilkan seseorang – biasanya penulis, musisi, aktor, atau sutradara – dan tiga buku favoritnya, lengkap dengan foto sampul buku-buku tersebut.

Saya menyebut tiga karya yang mengubah perspektif saya tentang fiksi: Frankenstein karya Mary Shelley, Orang-orang Bloomington karya Budi Darma, dan drama Shakespeare. Lalu, dengan perasaan bersalah, saya bertanya pada diri sendiri: Mengapa cuma satu nama penulis perempuan? Tiga adalah angka yang keji! Bila ada daftar yang lebih panjang, apakah saya akan memasukkan lebih banyak nama perempuan? Margaret Atwood, sudah pasti. Bagaimana dengan Judith Butler dan Melani Budianta? Mereka bukan penulis fiksi, tapi bisa dibilang saya pengikut aliran Butler dan Melani. Mengapa saya begitu gelisah soal nama perempuan di dalam daftar? Barangkali, saat berpikir tentang pengaruh, saya dihantui oleh kecenderungan menghapus. Bagaimanapun juga, membuat daftar adalah memilih yang satu dan menghilangkan yang lain.

“Kekhawatiran tentang pengaruh” yang dialami seorang pengarang, menurut kritikus sastra Harold Bloom, muncul dari rasa takut bahwa ia tak bisa membebaskan kreasinya dari karya-karya pengarang sebelumnya. Hanya lewat perlawanan khas Oedipus, pertempuran melawan para pendahulu sastra, seorang “penyair yang kuat” dapat membuat karyanya sahih. Sandra Gilbert dan Susan Gubar, dalam buku terkenal mereka mengenai tulisan perempuan abad 19, The Madwoman in the Attic (1979), menunjuk bahwa pendekatan model Freud terhadap genealogi sastra yang dilakukan oleh Bloom “sangat (eksklusif) laki-laki, dan dengan demikian patriarkis.” Hubungan antara seniman sastra diungkapkan lewat gender. Ini terlihat dari kekhawatiran yang hanya bisa diselesaikan lewat perang antara ayah dan anak.

Lantas bagaimana penulis perempuan dapat masuk ke dalam model maskulin genealogi sastra macam ini? Gilbert dan Gubar bertanya, “Apakah ia ingin meniadakan ‘kakek moyang’ atau ‘nenek moyang’? Bagaimana jika ia tak punya panutan, tak punya pendahulu?”

Mengajukan pertanyaan tentang sejumlah nama perempuan yang telah mempengaruhi karya bagi saya bukanlah sekadar persoalan sebut nama. Nama bahkan tak gampang disebut, khususnya dalam konteks sejarah sastra dan pemikiran di Indonesia. Nama perempuan kerap terlupa, tersingkir, atau terhapus. Menelusuri genealogi penulis dan intelektual perempuan yang turut membentuk tulisan saya adalah sebuah praktik berkesadaran feminis.

 

Selanjutnya