Mencari Ruang Simbolik dalam Laluba, Kuda Terbang Maria Pinto dan Sihir Perempuan (2007)

Oleh Manneke Budiman

Terbit di:

Rahman, Lisabona (ed.), Pola dan Silangan: Jender dalam Teks Indonesia. Jakarta: Yayasan Kalam, 2007, hal. 127-160

 

…  Para penulis ini, antara lain, adalah Nukila Amal, Linda Christanty, dan Intan Paramaditha. Nukila sempat mencuri perhatian public seiring dengan novel perdananya, Cala Ibi (2003), tetapi hal itu tak berlangsung lama, karena novel itu kemudian dinilai terlalu penuh teka-teki, bisa jadi karena permainan alur dan eksplorasi bahasanya yang rumit. Kumpulan cerpen perdana Linda, Kuda Terbang Maria Pinto (2004) gagal merebut perhatian arus utama sastra di negeri ini, walaupun karya tersebut mampu memenangkan Penghargaan Sastra Khatulistiwa pada 2004. Intan pun tak cukup memperoleh sambutan yang patut ia dapatkan melalui kumpulan cerpen pertamanya, Sihir Perempuan (2004 ?). Pujian yang keluar dari dua orang kritikus sastra terkemuka, Melani Budianta dan Nirwan Dewanto, rupa-rupanya belum juga sanggup membuat khalayak pembaca memalingkan mata ke penulis baru ini.

… Tulisan ini akan memperbincangkan sejauh mana pemaknaan ulang terhadap lokasi pinggiran atau marjin ini dapat melahirkan suatu puitika baru yang secara khusus bertautan dengan pengalaman perempuan. Saya kira ada sumbangan-sumbangan penting lain di luar penulisan tentang seksualitas yang diberikan oleh para penulis perempuan pasca-1998, tetapi ini senantiasa luput dari perhatian pelbagai perdebatan dan perbincangan mengenai sumbangan penulis perempuan untuk sastra Indonesia. Dengan demikian, pusat perhatian kita dapat mulai dialihkan dari persoalan seks ke hal-hal yang lebih relevan dengan produksi dan kritik sastra. Terakhir, harus diakui bahwa karya-karya Nukila Amal, Linda Christanty, dan Intan Paramaditha memang patut memperoleh pertimbangan yang lebih serius dan saksama. Pertimbangan seperti ini hanya dapat dilakukan selama karya-karya mereka diberi tempat yang adil dalam proses peninjauan ulang terhadap konstruksi estetika yang memberi keseluruhan bentuk kepada sastra Indonesia pasca-reformasi.

Selanjutnya