Menghapus Sebagai Mengingat (Majalah Tempo, 2011)

Tulisan ini adalah versi lebih panjang dari esai yang dimuat di majalah Tempo, 24 Januari 2011

Menghapus Sebagai Mengingat
Perempuan yang Dihapus Namanya – Avianti Armand 

oleh: Intan Paramaditha

Pembacaan ulang atas Alkitab adalah proyek yang berkelanjutan dalam produksi kebudayaan di Barat. Pemisahan agama dari kehidupan sekuler sejak zaman Pencerahan tak menghilangkan fungsi Alkitab sebagai kerangka pemaknaan. Alkitab adalah narasi besar yang menjadi fondasi teks Barat, baik dalam bentuk sastra seperti Paradise Lost, maupun teks non sastra yang turut memvalidasi keputusan-keputusan sekuler dalam sejarah — kasus berdirinya negara Israel sebagai contoh. Politik pembacaan – membaca dengan kesadaran posisi tertentu, sebagai perempuan, misalnya – menjadi penting untuk memaknai yang hadir dan menggugat yang absen. Lanskap inilah yang mempengaruhi pembacaan saya atas puisi Avianti Armand.

Lewat Perempuan yang Dihapus Namanya, salah satu buku puisi Indonesia yang paling mengusik perhatian saya akhir-akhir ini, Avianti merekonstruksi kisah-kisah perempuan dalam Perjanjian Lama. Saya memutuskan untuk menempatkan Avianti sebagai seorang pembaca. Dalam pengantarnya, Avianti sendiri melihat karyanya sebagai hasil dari proses “membaca lagi, menafsirkan lagi, merekonstruksi dunia dan kata-kata yang tersimpan dalam kitab.”

Maka mulailah perjalanan saya, menyelami sekumpulan puisi naratif tentang nama-nama yang tak asing: Hawa, Tamar, Batsyeba, Jezebel. Sebelum mereka ada perempuan penggoda yang menurut legenda diciptakan sebelum Hawa dan berkhianat. Ia disebut dengan “nama-nama terlarang,” Lilith salah satunya. Ia ditemukan dalam gulungan dokumen laut mati, tapi tak ada jejak kehadirannya dalam Kitab. Nama Lilith muncul satu kali dalam Kitab Yesaya, tapi tak jelas apakah dia perempuan atau binatang malam.

Keempat perempuan lainnya punya tempat yang berbeda-beda dalam Perjanjian Lama. Saya sepakat dengan Avianti bahwa perempuan-perempuan dalam Perjanjian Lama sangat menarik, sebab mereka memang – bila boleh saya sederhanakan – brutal. Sebagian dari mereka terseret dalam kehancuran dan pertumpahan darah, bahkan mendirikan singgasana di atas genangannya, seperti Batsyeba dan Jezebel. Saya langsung berpikir tentang sejumlah perempuan lain, seperti istri Potifar dalam Kitab Kejadian, yang juga penggoda. Istri Potifar (atau istri Aziz dalam Al Quran) tak disebutkan namanya, seperti juga sederetan karakter tak bernama lainnya dalam Kitab Suci. Kebanyakan dari mereka adalah istri atau putri seseorang.

Bahkan perempuan-perempuan yang namanya tak tertulis tetap menjadi arsip, meninggalkan jejak. Nama Hawa, Tamar, Batsyeba, dan Jezebel terus dihidupkan dalam memori kolektif dan tulisan, setidaknya dalam tradisi teks Barat. Mereka “tidak akan mati” (meminjam perkataan ular pada Hawa dalam puisi Avianti) dan bereinkarnasi dalam beragam rupa. Jezebel menyusun strategi agar suaminya Ahab mendapatkan ladang anggur Naboth seperti halnya Lady Macbeth yang ingin suaminya jadi raja Skotlandia. Jezebel tak terhapus; ia  direproduksi, ditulis ulang dan ditubuhkan, mengejawantah lewat perempuan-perempuan keji dalam sejarah panjang sastra maupun peran-peran femme fatale dalam film Hollywood era Reagan (ingat Fatal Attraction?).

Upaya menghilangkan Lilith tak pernah berhasil, sebab menghapus adalah juga menyisakan sesuatu. Inilah yang disebut Avianti sebagai lubang, yang terjadi “ketika mereka menggosok/ lembar-lembar papyrus tua untuk menghapus nama perempuan itu dari Kitab…” Lilith berada di ruang-ruang yang bocor, dan kita selalu menemukan jejak namanya dalam narasi tentang Hawa, Tamar, Batsyeba, Jezebel, atau perempuan-perempuan lainnya. Melalui pembacaan ulangnya, Avianti membagi ruang-ruang tersembunyi itu dengan kita; lubang kembali mempertemukan kita dengan perempuan yang dihapus namanya.

***

Pengarsipan, yang digerakkan oleh logika seleksi, memang menuntut sesuatu untuk dihapus. Namun jika menghapus seluruh narasi adalah proyek Sisyphus, yang dapat dilakukan adalah mendomestifikasi, memberi kerangka pada narasi agar ia tetap aman, tak mengganggu. Satu cara mendomestifikasi narasi tentang perempuan dalam Alkitab adalah dengan menyodorkan pembacaan tertentu, misalnya dengan membaca tokoh-tokoh perempuan sebagai Maria, menonjolkan kualitas ibu atau pendamping setia. Pembacaan macam ini tentu tak asing buat Avianti, dan ia  mengambil jalur berbeda.

Dalam puisi “Hawa,” kita diajak ikut serta merekonstruksi, atau memanggungkan ulang Taman Eden, meletakkan “sebutir matahari,” “sebatang sungai,” “beberapa pepohonan,” dan “seorang perempuan” pada tempatnya. Lewat petunjuk pemanggungan kita sadar siapa yang tidak hadir di sana; Adam absen, sibuk menamai benda-benda. Di panggung ini kita tahu Hawa akan bertemu ular dan petaka itu akan terjadi. Namun puisi Avianti menghadirkan yang hilang — perayaan atas hasrat sebagai subyek yang mengetahui: Dicelupkannya kakinya ke dalam laut dan laut/ membuka seperti lembar-lembar dalam buku/ yang terus-menerus membuka. Perempuan itu/ berjalan makin ke dalam dan ia merasa bungah. Hawa tetap menggoreskan dosa, namun ia “tak takut lagi,” sebab ia telah tahu. Berbeda dengan Adam yang menamai tapi tak tahu (atau terlambat tahu), Hawa mencelupkan diri dalam pengetahuan-(kejatuhan?)nya yang terus membuka seperti halaman buku. Barangkali, seperti Avianti, Hawa juga seorang pembaca.

Bagaimana Hawa menyikapi pengetahuannya tak pernah kita dengar, seperti halnya – kata Avianti – “apa yang terjadi di balik dinding-dinding kamar” Tamar. Struktur narasi dalam puisi “Tamar” berjalan linier, serupa dengan struktur dalam Kitab Kejadian. Ia dimulai dengan Yehuda mengambil Tamar sebagai menantu anak sulungnya, Er, lalu, setelah kematian Er, menikahkannya lagi dengan adik lelaki Er, Onan, demi memperoleh keturunan. Tamar adalah korban anak-anak Yehuda yang licik (meski dalam Alkitab hanya Onan yang digambarkan mempraktikkan coitus interruptus agar Tamar tak punya anak), maka Tuhan membunuh mereka. Namun, seperti Avianti, kita bertanya apakah Tamar benar-benar korban (atau apakah dia sengaja dibaca sebagai korban agar narasi ini dapat dikunyah). Bila cerita Tamar-Yehuda di Alkitab bergerak cepat dari satu peristiwa ke peristiwa lain, puisi Avianti membingkai suatu ruang, “pelaminan, suatu pertunjukan boneka,” menjadikan kita seorang pengintip dalam waktu yang lambat. Di ruang privat ini kita berayun dari apa yang kita tahu — Tuhan adalah tangan yang terayun. DitebasNya siapapun/ yang jahat di mataNya, — dan yang belum: Tamar, si “korban,” membaringkan tubuh dan berkata, “Aku adalah pedang.”

Batsyeba, seperti juga Tamar, hidup di dunia laki-laki, di mana “tak ada yang lebih penting dari penduduk dan pendudukan.” Seperti Tamar ia juga perempuan yang diambil, atau lebih tepatnya direbut Daud dari suaminya, Uria. Gairah Daud atas tubuhnya sulit dibedakan dengan nafsu atas “kota-kota yang direbut dengan busur/ dan lesatan anak-anak panah.” Tetapi bila ini narasi penaklukan, saya kira adegan voyeuristic Daud mengintip Batsyeba mandi saat suaminya pergi menyisakan ruang interpretasi lebih terbuka atas ambiguitas peran Batsyeba. Apakah ia tak sadar tengah diintip, atau apakah ia seorang penampil? Saya bertanya-tanya mengapa bukan adegan ini yang diangkat Avianti, juga mengapa bukan episode Batsyeba setelah menjadi istri Sang Raja, ketika ia berupaya keras mempertahankan posisi politiknya lewat hubungan yang kabur (“apakah cinta, nafsu, atau ambisi akan kekuasaan”). Namun sepertinya Avianti telah menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya: Sejak malam ini aku mungkin bukan aku/ dan kau bukan kau dan masa lalu kita/  adalah cerita-cerita yang ditumpuk di atas/ kekejian dan rasa bersalah. Batsyeba telah ambil bagian atas apapun yang kita imajinasikan. Kesedihannya atas kematian Uria barangkali bukan salah satu dari “ketulusan” atau (pertunjukan) “kepantasan,” melainkan keduanya.

Jejak Lilith begitu tegas pada cerita Jezebel, maka dibutuhkan upaya penghapusan yang lebih keras, tanpa ampun. Tak terpisahkan dari kerumitan hubungan agama dan politik, tubuh Jezebel si perempuan (asing) pemuja Baal adalah sumber kebencian. Puisi “Jezebel,” diawali dengan lonceng kematian yang memanggil-manggil nama Jezebel, pepat oleh hasrat meniadakan jejak tubuh perempuan khianat. Avianti menggambarkan akhir hayat Jezebel sebagai berikut: Genap nubuat di luar Yizreel/ “Dicincang anjing daging Jezebel/ tinggal kepala dan kedua kaki/untuk santapan malam nanti.” Kita merasakan teror yang tak putus — nafsu membunuh yang tak habis-habis – ketika bait di atas disandingkan, seolah tanpa patahan, dengan kutipan dari Kitab Raja-Raja:  “—maka mayat Jezebel akan terhampar/ di kebun di luar Yizreel seperti pupuk/ di ladang, sehingga tidak ada orang yang/ dapat berkata: Inilah Jezebel.” Namun tubuh yang dihilangkan tak menjamin penutup yang koheren. Puisi Avianti menunjukkan bahwa lubang yang dihuni oleh Lilith, penanda “yang bukan ilahi melainkan birahi,” tetap menganga, bocor di mana-mana.

***

Buku Avianti dapat kita sejajarkan dengan upaya para feminis Barat menelaah arketip perempuan dalam kitab suci demi memahami bagaimana politik gender beroperasi dalam sejarah. Namun praktik pembacaan tak bisa diseragamkan, sebab ia ditentukan oleh kepentingan, ruang, dan waktu yang spesifik. Pertanyaan selanjutnya adalah: bagaimana proyek pembacaan ulang ini kita tempatkan di Indonesia, hari ini? Satu kemungkinan melihatnya adalah bahwa saat fundamentalisme agama dan politik identitas menguat, proyek Avianti mengingatkan kita akan pentingnya mengkritisi teks-teks fundamental dan membaca ulang apa yang kita bayangkan utuh, termasuk posisi kita sendiri.

__________________