Para Budak yang Penasaran

cover - Budak Setan

Baca catatan proses kreatif lainnya

Para Budak yang Penasaran

Cuplikan catatan untuk proyek buku Kumpulan Budak Setan, 30 Desember 2009

oleh Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad

Sulit bagi kami menentukan judul kumpulan cerpen ini. Awalnya kami ingin menggunakan judul “Celaka 12,” sebab di dalamnya ada 12 cerpen yang mengolah tema “celaka.” Tapi kemudian kami menimbang alternatif lain, seperti “Goyang Penasaran.” Tentu saja kami tidak sedang menyodorkan cerpen “Goyang Penasaran” sebagai cerpen terbaik. Frase itu kami pinjam karena “penasaran” adalah motif yang terus muncul dalam cerita horor. Pada saat yang sama, didorong rasa penasaran terhadap Abdullah Harahap (yang sampai saat ini belum pernah kami temui), kami ingin meng-“goyang” definisi tentang horor. Timbang ini-itu, akhirnya pilihan jatuh pada “Kumpulan Budak Setan,” yang menurut kami paling mewakili deretan kosa kata yang sering digunakan Abdullah Harahap. Selain bahwa beberapa cerpen kami menampilkan tokoh-tokoh budak, kesetiaan kami membaca Abdullah Harahap telah menjadikan kami penulis yang diperbudak (cerita) setan.

Kisah perbudakan ini diawali di tahun 2008, ketika kami saling membagi ketertarikan atas karya-karya Abdullah Harahap. Kami pun sepakat melakukan pembacaan ulang terhadap Abdullah Harahap dan memulai proyek menulis sebuah kumpulan cerita horor. Reaksi teman-teman yang mendengar tentang proyek ini cukup beragam. Sebagian besar mengernyitkan dahi dan mengajukan pertanyaan seperti “Siapakah Abdullah Harahap?” atau “Mengapa Abdullah Harahap?” Pertanyaan-pertanyaan semacam ini membuat kami curiga: barangkali pembaca sastra Indonesia memang bukan pembaca Abdullah Harahap. Tapi kami tetap penasaran. Lebih buruk lagi, kami adalah budak.

***

Nama Abdullah Harahap tak pernah menjadi bagian dari kanon sastra Indonesia. Ia menulis novel horor “picisan,” diramu dengan seks, di tahun 1970-1980-an. Anda dapat menemukan novelnya saat berjalan-jalan di toko buku kecil, pasar loak, atau stasiun kereta. Status “picisan” Abdullah Harahap mencerminkan status genre horor yang identik dengan estetika rendah dan karenanya berada di luar khazanah sastra. Proyek ini tidak berupaya melakukan mistifikasi atas Abdullah Harahap sebagai pengarang individual (meski dapat dikatakan bahwa ia penulis cerita horor yang paling produktif di Indonesia) atau mencoba menempatkannya dalam lingkup “sastra Indonesia.” Abdullah Harahap bagi kami lebih merupakan penanda sebuah genre yang populer dan marjinal dalam ukuran estetika tertentu. Ia juga teman bercakap paling seru tentang horor di Indonesia. Dengan menggunakan tema dan motif yang kerap muncul dalam karya-karya Abdullah, kumpulan cerpen ini adalah proses menelusuri dan memaknai ulang horor dalam produksi kebudayaan di Indonesia sembari bermain di batas antara sastra dan budaya populer.

Jalan yang kami tempuh menuju karya-karya Abdullah Harahap cukup berbeda. Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad bertemu dengan Abdullah Harahap di masa kecil dan remaja; Eka menemukannya di beberapa taman bacaan di Pangandaran, sedangkan Ugoran di rak toko persewaan buku di pinggir pasar Tanjung Karang. Keduanya saling membagi motif-motif khas Abdullah semisal arwah penasaran, manusia jadi-jadian, atau percintaan dengan siluman. Motif-motif ini melekat dan, secara sadar maupun tidak, mewarnai karya keduanya seperti cerpen “Penjaga Malam” dan “Penjaga Bioskop,” yang terbit sebelum proyek pembacaan ulang terhadap Abdullah Harahap dimulai. Sementara itu Intan Paramaditha, meski pernah membaca sejumlah novel horor-seks di masa yang sama, baru berusaha mengenal Abdullah setelah menerbitkan kumpulan cerita horor Sihir Perempuan, yang lebih dipengaruhi oleh referensi horor dan dongeng Barat. Ia kemudian mencoba menelusuri genealogi cerita horor di Indonesia dengan meminjam buku-buku Abdullah Harahap di perpustakaan di Amerika Serikat.

Proyek ini lambat laun menjadi sebuah proyek melintasi ruang. Kami membicarakan karya Abdullah Harahap di ruang maya, lewat yahoo messenger, saat kami bertiga secara fisik berada di lokasi yang berbeda-beda: Jakarta, Yogyakarta, New York. Ugoran mengumpulkan koleksinya yang masih tersimpan di Tanjung Karang, Eka membeli beberapa buku di sebuah pasar di Solo, dan Intan meminjam semua buku Abdullah Harahap dari koleksi studi Asia Cornell University. Perlintasan ini bertaut dengan jelajah Abdullah atas horor. Dalam menyodorkan latar sosial dan mistisisme lokal sebagai ciri khas sebagian besar karyanya (dan sebagai jalan mendekatkan diri dengan pembacanya), ia meng-apropriasi logika narasi Barat. Apropriasi konvensi realisme dalam horor Abdullah yang paling mendasar adalah bahwa seluruh karakter hantunya ia lengkapi dengan motif dan kausalitas; genderuwo, wewe gombel, dan hantu-hantu pra-kolonial di nusantara yang tercatat di berbagai kitab dan babad cenderung tak bermotif, mereka sekedar “jahat”. Lebih jauh, dualisme tubuh dan jiwa dalam arwah-arwah penasaran yang membutuhkan/meminjam/merebut tubuh orang lain untuk menjalankan agenda balas dendamnya harus pula kita lihat sebagai keterpengaruhan literatur Samawiyah.

Pengaruh modus realisme Barat pada Abdullah Harahap juga terlihat dalam penggambaran kegelisahan atas kota dan modernitas serta tema retakan dalam ruang domestik yang dianggap aman. Maka, di satu sisi kita kerap menemukan solusi konflik lewat tokoh-tokoh spiritual yang mencerminkan sinkretisme antara Islam dan mistisisme; di sisi lain kita melihat gangguan terhadap rumah — yang seharusnya menjadi simbol berjalannya fungsi keluarga modern dan (hetero)normatif – oleh rahasia gelap di gudang, ruang bawah tanah, maupun lemari. Dalam Misteri Lemari Antik, misalnya, tempat penyimpanan pakaian/“closet” sebagai pintu menuju kekaburan antara yang ‘normal’ dan yang subversif mengingatkan kita tidak hanya pada serial Narnia karya C.S. Lewis tetapi juga pada ruang-ruang tertutup dalam novel-novel Gothic era Victoria.

Ruang dalam karya-karya Abdullah Harahap menjadi unik karena ia tak hanya berfungsi sebagai pembangun suasana mencekam, tetapi juga karena di situlah hubungan horor dengan situasi sosial dimainkan. Dinamika hubungan kota-desa kerap muncul ketika tokoh-tokoh dari desa, dengan segala romantisasi tentang desa yang utuh dan tak terjamah, menatap kota yang pecah dan hiruk pikuk sebagai sumber bahaya dan, kemudian, kembali ke desa dengan cara pandang yang tak lagi sama. Kota menjadi penanda hubungan degradasi moral dan akumulasi modal lewat beragam profesi yang ‘tak natural’ (seperti model dan perancang busana dalam cerita Dosa Turunan). Desa menjadi situs yang kerap terancam, tak hanya oleh modernitas, tetapi juga oleh feodalisme dan kolonialisme. Dalam buku Titisan Iblis, hadirnya rumah mewah seorang lurah di tengah-tengah desa, berikut misteri gelap yang lambat laun terungkap dari dalam rumah, menunjukkan bagaimana keharmonisan desa terganggu oleh semesta feodal sang lurah. Sementara itu lemari dalam Misteri Lemari Antik membawa tokoh-tokoh masa kini ke masa lalu dan menyaksikan perkosaan yang dilakukan oleh tentara kolonial. Namun desa yang dibayangkan murni bukan sepenuhnya tak berdaya; ia balas mengganggu lewat hal-hal yang tak terjelaskan: hantu-hantu, manusia kera, atau guru spiritual yang bijak sekaligus mengerikan.

Baca catatan selengkapnya di buku Kumpulan Budak Setan