Penghargaan Cerpen Terbaik Kompas

Kompas, 26 Juni 2014, hal. 1.*

 

JAKARTA, KOMPAS — Cerita pendek atau cerpen karya Intan Paramaditha terpilih sebagai cerpen terbaik yang dimuat harian Kompas selama tahun 2013. Penganugerahan karya tersebut dalam rangka peringatan 49 tahun Kompas, tepat pada 28 Juni 2014.
”Kompas dengan setia memberikan penghargaan karya cerpen terbaik setiap tahun, ini bentuk penghargaan atas pencerahan yang diberikan para penulis,” kata Pemimpin Redaksi Kompas Rikard Bagun dalam sambutan ”Penghargaan dan Peluncuran Antologi Cerpen Pilihan Kompas 2013, Pembukaan Pameran Ilustrasi Cerpen Kompas 2013”, Rabu (25/6), di Bentara Budaya Jakarta.

Penghargaan cerpen terbaik pilihan Kompas diberikan kepada Intan Paramaditha. Karya Intan berjudul ”Klub Solidaritas Suami Hilang” diterbitkan pada edisi Kompas, 31 maret 2013. Intan lahir di Bandung, 15 November 1979. Dia lulusan Universitas Indonesia dan mendapat beasiswa Fulbright untuk belajar sastra di University of California, San Diego, Amerika Serikat. Saat diumumkannya penghargaan itu, Intan sedang berada di Amerika Serikat.

 

Penghargaan Cerpen Kompas

 

Menurut salah satu anggota dewan juri, Efix Mulyadi, Intan menceritakan persoalan tragis dengan cara dingin dan tak terduga sehingga penuh kejutan. Cerpen Intan dinilai memiliki syarat-syarat lengkap sebagai cerpen yang nyaris sempurna.

”Dia tidak saja mengolah sebuah persoalan hakikat, tetapi memberikan ruang bagi pembaca untuk memahami tokoh-tokoh di dalamnya,” kata Efix.

Cerpen karya Intan itu mengalahkan saingan terdekatnya, berjudul ”Aku, Pembunuh Munir”, karya Seno Gumira Ajidarma. Menurut anggota dewan juri lainnya, Putu Fajar Arcana, Intan bukanlah cerpenis yang produktif. ”Sekali berkarya, menjadi karya yang luar biasa,” kata Arcana.

Intan dianugerahi trofi berupa patung karya Nyoman Nuarta. Sebelumnya, Intan sudah melahirkan antologi cerpennya berjudul, Sihir Perempuan (Black Magic Woman) dan menjadi unggulan Khatulistiwa Literary Award pada 2005.

Pada kesempatan yang sama, Rikard Bagun menyampaikan pula Penghargaan Kesetiaan Berkarya kepada sastrawan Putu Wijaya. Putu tetap menghasilkan tulisan yang tersebar di berbagai media, meskipun dia terpaksa mengetik dengan menggunakan jempolnya, ketika jari lainnya sulit untuk digerakkan.

”Menulis itu bukan karena tangan kita bisa menulis, melainkan karena kemampuan kreativitas imajinasi kita,” kata Putu.

 

Kegairahan

Ketua panitia kegiatan tersebut, Frans Sartono, mengatakan, cerpenis Indonesia memiliki kegairahan yang tinggi. Setiap hari, Kompas menerima rata-rata 12 karya cerpen sehingga dalam setahun bisa mencapai 4.000 cerpen yang diterima.

”Dari jumlah cerpen yang diterima itu dalam setahun hanya dimuat 52 cerpen, 1 cerpen setiap Minggu,” kata Frans.

Kegairahan itu juga tecermin dalam lokakarya cerpen Kompas sebelumnya. Jumlah peserta yang mengajukan diri ikut lokakarya itu mencapai 380 peserta. Tetapi, daya tampungnya sangat terbatas sehingga hanya terpilih 30 peserta.

Antologi Cerpen Pilihan Kompas 2013 yang diluncurkan berisi 23 cerpen dari 51 cerpen yang dimuat Kompas selama 2013.

Direktur Bentara Budaya Jakarta Hariadi Saptono mengatakan, Pameran Ilustrasi Cerpen Kompas 2013 yang diselenggarakan ibarat harta ”gono-gini” pemuatan cerpen. Ilustrasi cerpen merupakan karya-karya pelukis.

”Ilustrasi dan cerpen itu seperti suami-istri. Tetapi, tidak adilnya adalah harga ilustrasi cerpen sebagai harta visual selalu jauh lebih tinggi dari harga cerpen itu sendiri,” kata Hariadi.

Cerpen karya Intan ”Klub Solidaritas Suami Hilang” itu ditafsirkan dengan ilustrasi berupa lukisan karya Bambang Heras. Bambang Heras merupakan seniman pelukis yang kini menetap di Yogyakarta. Sementara Dewa Budjana, Trie Utami, Bang Saat, Bintang, dan Jalu membawakan adaptasi karya itu dalam bentuk pertunjukan musik. (NAW)

 

*Teks berita Kompas disalin dari Agus Hamonangan.