Perspektif Gender dalam Kajian Film (Jurnal Perempuan, 2008)

 

Jurnal Perempuan 61, 2008

Intan Paramaditha

 

Di tahun 2005, saat menjadi juri kompetisi esai pelajar British Council tentang gender dalam film, saya sempat tersentak oleh komentar seorang peserta usai menonton film bertema homoseksualitas, “Saya akan bunuh diri bila mendapati diri saya lesbian.”[i] Dua tahun kemudian, film Perempuan Punya Cerita, yang menyuarakan isu-isu perempuan seperti aborsi, seksualitas remaja, HIV/ AIDS, dan penjualan perempuan, disensor atas alasan mengancam “moralitas bangsa.” Dua contoh di atas muncul dari wilayah institusi yang berbeda – sekolah menengah dan lembaga sensor film – namun menyiratkan persoalan yang sama: kegelisahan terhadap representasi gender dan seksualitas. Bukan kebetulan bila masalah ‘kegelisahan  representasi’ di Indonesia terus-menerus bersinggungan dengan politik, dan akhir-akhir ini mengejawantah dalam kontroversi Undang-Undang Pornografi.  Fobia terhadap tubuh perempuan, yang menjadi (salah satu) logika di balik Undang-undang tersebut, menunjukkan terbatasnya kemampuan, atau barangkali kesadaran, menelaah gender dalam budaya secara kritis. Dalam esai ini saya akan membahas kaitan perspektif gender dengan medium film, situs familiar yang – dalam konteks Indonesia – lekat dengan budaya populer sekaligus kepentingan penguasa. Saya mencoba melakukan pemetaan, membahas apa-apa yang luput dan belum digali, dan meneropong pekerjaan rumah untuk mengembangkan perspektif gender dalam kajian film di Indonesia.

 

Perspektif Gender: Asing, Remeh, Banal

 

Di satu sisi, gender dalam kajian film adalah wilayah asing yang belum dipetakan secara komperehensif di Indonesia; di sisi lain, ia dianggap urusan kalangan tertentu  dan cenderung direduksi sebagai telaah terhadap ‘citra perempuan.’ Penelitian berperspektif gender terhadap film Indonesia muncul secara sporadis dalam artikel jurnal atau bab dalam buku (Sen 1994; Hanan 1995; Clark 2008). Pada saat yang sama, bias maskulin dalam membaca film merupakan area yang jarang diinterogasi. Kritikus menekankan hubungan ruang dan gender ketika mengritik potret tak realistis masyarakat akibat posisi kelas pembuat film yang lebih sering bersosialisasi di kafe.[ii]  Argumen ini mirip dengan kritik berlandaskan feminisasi ruang-ruang tertentu dalam memandang ‘sastra perempuan,’ misalnya tentang eratnya perempuan dengan wilayah urban yang glamor (dalam fenomena Sastrawangi) maupun wilayah domestik yang sempit (dalam karya-karya perempuan penulis era 1970-1980an).

Masalah gender yang ‘remeh-temeh’ juga membuat kita cenderung mengabaikan karya-karya perempuan sutradara pra-reformasi, seperti Ida Farida, Sophia WD, Ratna Asmara, dan Citra Dewi. Tema-tema percintaan dan rumah tangga yang feminin membuat peneliti dan kritikus film sulit mengkategorikan mereka dalam rubrik yang ‘lebih penting,’ seperti pencarian terhadap “wajah Indonesia asli” (Said 1991) ataupun “budaya nasional” sebagaimana tercermin dalam “film genre” imitasi Hollywood (Heider 1991). Hanya Krishna Sen yang selintas menyebut nama-nama perempuan sutradara ini, menekankan bahwa terbatasnya pilihan dan ruang gerak bagi perempuan di era Orde Baru memaksa mereka untuk mengadopsi sudut pandang dominan/ patriarkis agar bisa bertahan di industri film (1994: 135).

Meski tak membantah kondisi umum yang dipaparkan Sen, saya melihat ada hal-hal yang tak tergali, dan bahkan agak subversif, saat menonton beberapa film Ida Farida. Hubungan gender dan film yang dianggap kurang penting bagi pembaca awam dan banal bagi sebagian kritikus menuntut pembukaan wawasan, atau bahkan pemetaan, terhadap berbagai perspektif gender dalam film dan kemungkinan-kemungkinan pembacaan produktif.

 

Baca artikel selengkapnya di Jurnal Perempuan 61, 2008

 


[i] Lebih jauh lihat Kenny Santana, “Youth Takes on Sex, Lies, and Gender” (The Jakarta Post, 3 April 2005).

[ii] Sebagai contoh lihat tulisan Totot Indrarto terhadap film Pasir Berbisik dalam “Mencari Problem ke Negeri Antah Berantah” Kompas ( 2 September, 2001).

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *