Satu Kunang-kunang, Seribu Tikus

Satu Kunang-kunang, Seribu Tikus

Terbit di Koran Tempo, 15 Februari 2009

Satu kunang-kunang seribu tikus

Seorang pembunuh berdarah dingin, tak senang bernostalgia, mengawali rencananya dengan seorang perempuan yang mati tanpa melihat kunang-kunang. Dari ruang dan waktu yang jauh berbeda, ia mengintip Epon, seorang perempuan dengan kebiasaan ganjil. Tepat pukul dua belas malam, kala suaminya terlelap, Epon akan berjalan keluar rumah menuju kuburan demi melihat kunang-kunang. Ia percaya kunang-kunang ini — jenis betina berkilauan yang mengubah diri sesuai selera pejantan hanya untuk memangsanya kemudian — tak muncul di tempat lain. Tentu saja Toha suaminya menjadi gelisah. Di Desa Cibeurit yang guyub tentram, perempuan tak berkeliaran malam-malam, apalagi pergi ke kuburan. Bisa-bisa istri Toha dianggap penganut ilmu hitam.

Beberapa malam sebelum peristiwa menyedihkan itu, Toha menyergap Epon saat ia mengendap-endap meninggalkan kamar.

Mau ke mana kamu? Kenapa sembunyi-sembunyi seperti tikus?

Epon, yang sedang hamil besar, terpaksa kembali ke pembaringan tanpa melihat kunang-kunang.

Di akhir hayatnya Epon tak melihat kunang-kunang sungguhan, tetapi bayi mungil dalam pelukan Mak Icih, dukun yang membantu persalinannya. Bayi itu perempuan, molek, seolah punya sayap bersinar-sinar. Kunang-kunang yang cantik, gumam Epon sebelum penghabisan. Pembunuh kita setuju, meski ia tengah melihat kunang-kunang di kuburan yang lain.

Baca selengkapnya (versi PDF) di sini:

Satu Kunang-kunang, Seribu Tikus