Sihir yang Membebaskan: Demistifikasi Perempuan Patriarki dalam Sihir Perempuan (Susastra, 2005)

cover - SIHIR PEREMPUAN

SUSASTRA, Jurnal Ilmu Sastra dan Budaya 1.2 (Desember 2005): 167-174.

Oleh: Manneke Budiman

 

…   yang juga menarik untuk diperbincangkan, adalah teknik penceritaan. Dalam hal inilah barangkali Intan Paramaditha membedakan dirinya dari para penulis segenerasinya. Intan bertutur dengan strategi yang diperhitungkan secara cermat dan metodik untuk mencapai efek tunggal yang klimaktik pada akhir setiap ceritanya. Dalam hal ini, ia setia betul dengan diktum cerita pendek yang pernah digariskan cerpenis Amerika tersohor, Edgar Allan Poe, yang menegaskan bahwa sebuah cerpen dinilai efektif apabila mampu mengarahkan segala peranti kreatif yang dimilikinya untuk mencapai sebuah efek yang tunggal dan dramatik pada penghujung cerita. Dalam praktiknya, Poe sendiri dikenal sebagai seorang penulis cerita horor bernuansa gothik yang selalu menghadirkan kejutan pada akhir setiap karyanya. Jejak-jejak resep Poe ini juga dapat dilacak dalam banyak cerpen karya O. Henry, yang gemar menghadirkan kejutan bahkan pada kalimat terakhir sebelum cerita betil-betul tamat.

 Pada karya-karya Intan, teknik bercerita yang khas ini juga dibalut oleh suasana horor yang membuat cerita kian mencekam seiring dengan perkembangannya, ditambah lagi dengan perspektif perempuan yang digunakan olehnya untuk membangun penokohan dan alur. Beberapa tahun yang lampau, Haryati Soebadyo, dengan nama samaran Aryanti, juga pernah menulis cerpen-cerpen bergenre misteri dan horor uang melibatkan makhluk-makhluk  supernatural, tetapi perbedaan prinsip antara karya-karya haryati dan Intan terletak pada perspektifnya. Meskipun banyak tokoh perempuan dalam kumpulan cerpen Sihir Perempuan bersosok hantu atau mahkluk gaib lainnya, lewat perspektifperempuan yang digunakan Intan keberpihakan dan simpati pembaca berhasil digiring ke tokoh-tokoh hantu yang secara tradisional dipandang sebagai momok yang menakutkan itu.

Selanjutnya