Suara-suara Perempuan yang Terbungkam dalam Sihir Perempuan (Sayembara kritik sastra DKJ 2007)

Oleh Bramantio

Terbit di Tamsil zaman citra: bunga rampai pemenang sayembara kritik sastra Dewan Kesenian Jakarta 2007. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta, 2007.

Sihir Perempuan adalah buku kumpulan cerpen karya Intan Paramaditha yang secara keseluruhan bercerita tentang perempuan. Tema keperempuanan yang diangkat oleh kesebelas cerpen di dalam kumpulan ini tidak serta-merta menjadikannya terjebak di dalam lingkaran yang dibangun oleh karya-karya pengarang perempuan Indonesia mutakhir yang begitu gegap-gempita merayakan tubuh dan seksualitas perempuan. Cerpen-cerpen Intan bercerita tentang perempuan dari sisi yang lain, yaitu sisi kelam dunia perempuan.

Pada dasarnya, setiap karya sastra bukan hanya berlaku sebagai artefak, tetapi sekaligus sebagai objek estetis. Artefak merupakan dasar material objek estetis, sedangkan objek estetis merupakan representasi artefak di dalam pikiran pembaca. Pembentukan objek estetis yang berdasarkan pada artefak terjadi dengan sarana peran aktif pembaca—pembacalah yang menciptakan objek estetis. Pembentukan objek estetis yang mendasarkan diri pada artefak disebut konkretisasi. Sebuah artefak tunggal bisa saja menimbulkan beberapa objek estetis dan hal tersebut bergantung sepenuhnya pada pembacanya dan cara pembacaannya.

Sebagai sebuah karya sastra, sebuah objek estetis, Sihir Perempuan memuat tanda-tanda yang perlu dimaknai melalui proses konkretisasi untuk mengungkap makna teks secara keseluruhan. Pemaknaan terhadap tanda-tanda tersebut bersifat relatif, tidak ada sebuah kebenaran mutlak. Maksudnya, makna yang dihasilkan sepenuhnya bergantung pada horison harapan pembaca, yang di dalamnya termasuk kompetensi kesastraan, yang terbentuk oleh pengalaman pembacaan masing-masing pembaca. Dengan kata lain, sebuah karya sastra dibaca dan dimaknai pembacanya dengan cara yang berbeda-beda. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa makna yang pada akhirnya diperoleh tidak objektif.

Berkaitan dengan uraian tersebut, saya menganggap cerpen-cerpen di dalam Sihir Perempuan menarik untuk dibaca melalui perspektif feminisme. Perspektif feminis dibutuhkan untuk mengentalkan pengalaman-pengalaman spesifik yang dialami manusia dan mengemukakan persoalan-persoalan kelompok marjinal, pembongkaran relasi kuasa dalam struktur pengetahuan maupun masyarakat, dan dekonstruksi teks yang falogosentris. Dalam makalah ini saya hanya menyajikan analisis atas empat cerpen di dalam Sihir Perempuan, yaitu “Pemintal Kegelapan,” “Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari,” “Misteri Polaroid,” dan “Sang Ratu” karena saya menganggap keempat cerpen tersebut selain bercerita tentang perempuan juga memiliki sesuatu yang tersembunyi berkaitan dengan realitas keperempuanan.

Selanjutnya