Wawancara dengan Ruang Gramedia

Sebongkah Pemikiran Intan Paramaditha

Syarafina Vidyadhana

05 Oktober 2016

G: Anda menulis skripsi mengenai pengalaman sublim tokoh Prometheus dan ideologi gender dalam Frankenstein (Mary Shelley). Selain itu, Anda juga menyukai karya-karya Margaret Atwood. Bagaimana kedua penulis ini mempengaruhi visi Anda sebagai seorang penulis dan feminis?

IP: Saya belajar dari Mary Shelley dan Margaret Atwood, sebagaimana juga kemudian dari Angela Carter, bahwa membaca dan menulis ulang adalah strategi feminis. Frankenstein adalah pembacaan ulang atas mitos Prometheus, figur pencipta sekaligus pemberontak yang memikat banyak seniman di zaman Romantik. Perspektif feminis atas mitos Prometheus dalam Frankensteintercermin dalam pertanyan seputar proses penciptaan, ilmu pengetahuan, dan pengkultusan individu. Proses kreatif saya bisa dikatakan terinspirasi oleh proses yang dilakukan oleh Shelley dan Atwood: membaca, memberi interpretasi berbeda, dan menyodorkan teks baru. Pengarang perempuan kerap mengkritik dengan menulis ulang, seperti Angela Carter merevisi sejumlah dongeng lewat The Bloody Chamber dan Toeti Heraty mereka ulang kisah Calon Arang. Dan kenapa tidak? Perempuan tumbuh dengan dongeng, tapi dongeng tak memberi banyak pilihan untuk perempuan. Perempuan digambarkan tak berdaya dan harus diselamatkan (lewat perkawinan). Ketika ia menyelamatkan diri sendiri dengan melanggar norma yang tidak berpihak padanya, ia diharus dihukum, seperti ibu tiri Putri Salju yang dalam versi cerita klasiknya dipaksa memakai sepatu besi panas dan menari sampai mati.

Semangat membaca ulang secara feminis juga berarti membaca karya-karya penulis perempuan secara lebih dekat dan menimbang pengaruh mereka dalam proses kreatif. Ini kedengarannya gampang, tapi kalau kita baca wawancara pengarang tentang siapa saja yang mempengaruhi mereka, nama-nama yang kerap muncul adalah nama laki-laki. Dan ini terkait dengan persoalan akses, kanonisasi, siapa yang dibicarakan, siapa yang dianggap penting. Di Amerika, upaya menggugat peminggiran penulis perempuan dari kanon sastra dimulai di akhir 60-an – artinya ini terbilang baru, kalau bukan terlambat. Beberapa bulan lalu saya menulis esai berjudul A Feminist Trajectory of Literary Influences, sebuah upaya untuk menelusuri pengaruh pengarang atau intelektual perempuan yang mempengaruhi proses kreatif saya. Tentu banyak karya penulis laki-laki yang saya sukai, tapi saya rasa kita perlu mengembangkan sebuah etika feminis dalam membaca, yakni berupaya menelusuri nilai penting dari karya-karya penulis perempuan — khususnya dalam konteks non Barat. Jadi buat saya ini bukan hanya menelusuri jejak Mary Shelley, Margaret Atwood, Angela Carter, Anne Sexton, tapi juga Arundhati Roy, Toni Morrison, Toeti Heraty. Akhir-akhir ini saya senang menemukan The Vegetarian karya Han Kang. Saya suka khususnya bagian pertama dari novel ini karena menawarkan alternatif atas penggambaran kekerasan yang kerap hipermaskulin dalam film-film art-house Korea.

Selengkapnya